Pages

Selasa, 27 April 2010

Ulang Tahunku yang ke-12 170609

kutatap jalan menuju arah kampung halamanku sepertinya
tidak banyak yang berubah, setahuku jalan ini tidak pernah diperbaiki walaupun sebetulnya cukup besar dan dapat dilalui oleh mobil, tapi dengan kondisi penuh lubang dan berbatu seperti ini hanya mobil truk pengangkut pasir saja yang masih memanfaatkan jalan ini, itupun terpaksa karena tidak ada jalan lain menuju sungai untuk dikeruk pasirnya dan dijual ke penampung bahan bangunan.
Hanya sekarang suasana jadi agak ramai oleh pengemudi ojeg yang mangkal di pertigaan jalan ini padahal hari telah menjelang petang,
Setelah beberapa saat kuperhatikan, tidak satupun orang di sini yang aku kenal mungkin kebanyakan dari mereka adalah kaum pendatang yang mencoba mencari nafkah di sini. Tapi setidaknya aku sudah sampai dengan selamat setelah menempuh perjalanan jauh untuk kembali ke tanah kelahiranku yang kutinggalkan sekitar dua tahun lalu.
Aku berlari kencang untuk mengijakkan kakiku kembali di rumah, “Inikah yang terjadi saat aku tak ada disini?” kata hatiku, sambil melihat sekeliling. Indahnya pagi ini, tapi “Mengapa tak ada orang disini, inikan hari istimewaku?” hatiku bertanya kembali, Seseorang yang tak ku kenal datang menghampiri aku, tapi anehnya dia membawa satu bingkisan besar yang susah ku tebak, apa isi bingkisan itu, dia berkata “Selamat ulang tahun ya, semoga kau sehat selalu dan amalmu di terima oleh Allah!” katanya. Dengan wajah heran, hasya pun bertanya padanya “anda siapa? Dan mengapa anda berikan bingkisan ini padahal saya tidak mengenal anda.” kataku. Dia hanya membalas dengan senyuman, setelah itu dia malah masuk ke rumahku, dia mengambilakan sebuah bingkai foto keluargaku “ohh..mungkin dia adalah saudara jauhku.” dalam hatiku, orang tak dikenal itupun pergi melangkahkan kakinya dari rumahku tanpa berkata satu kata pun. Aku tak terlalu mempedulikan hal itu, tapi kenapa dia membawa bingkai foto keluargaku, disaat itu aku langsung masuk ke rumahku yang dulu selalu ku impikan agar bisa menjadi istana. “Assalamualaina waala ibadillah hi ssolihin” ucapku. Aku sangat terkejut melihat banyak sekali bingkisan yang di letakkan di meja ruang tamuku, tak ku sangka ada bingkisan di rumahku, tapi siapa yang meletakkan dan memberi aku bingkisan itu. Tapi tak berpikir lama, aku langsung menuju ke kamarku yang dulu ku bilang ini adalah surga dari rumah ini. Saat aku buka pintu kamar, apa yang aku lihat? Boneka-boneka tersusun rapih diatas meja belajar, bed cover, sampai lemariku, tapi saat ku masuk, ku merasakan hal yang tak biasa kurasakan, seperti ada seseorang yang sedang mengerjaiku atau mengikutiku seakan dia ingin mencari tau tentang aku, dan benar apa kataku, aku terkejut kaget setelah beberapa orang mengagetkanku dengan mereka menyumput dibawa bed cover. Tak kusangka mereka adalah sahabat terdekatku, senangnya aku setelah dua tahun aku meninggalkan mereka karena ada yang sedang tidak beres dalam keluarga sehingga aku harus meninggalkan kampung halamanku tercinta. Ku peluk mereka seerat mungkin, seperti halnya ku memeluk boneka tedy bear, tapi tak beberapa lama kemudian salah seorang sahabatku menyuruhku untuk melihat keluar jendela, “memangnya ada apa disana?” tanya diriku. jarak yang tidak begitu jauh terlihat ada beberapa cahaya lampu dan setelah sampai disitu aku ingat hanya bangunan mesjid di sebelah warung sekarang lumayan megah. Setelah itu sahabat ku pun, harus kembali pulang saat maghrib nanti. Tak lupa ku ucapkan banyak terima kasih atas hadiah yang mereka berikan untukku, padahal ulang tahunku adalah hari keesokannya, tapi entah kenapa mereka memberikannya sehari sebelm hari itu terjadi. Adzan Maghrib terdengar begitu nyaring, hatiku bergetar... kupandang mesjid ini yang dulu dindingnya terbuat dari bilik bambu.
Hatiku jadi tergerak untuk ikut Sholat Maghrib di sini. Saat itu juga aku dikejutkan kembali dengan penyambutan aku di pintu masjid, hatiku bertanya dan itu butuh jawaban “Sebenarnya ada apa? Mengapa saat aku pindah kemari banyak kejutan yang kalian berikan untukku?”kataku, tapi tak ada yang menjawab satu orang pun. Semakin kesini aku semakin bingung, setelah shalat maghrib berjamaah itu selesai, leganya hati ini. Malam bergulir, jalan semakin sepi dan gelap saat aku tinggalkan masjid, melihat langit yang nampaknya mendung, daun-daun pohon pisang bergoyang diterpa hembusan angin bagaikan irama mengiringi suara langkah kakiku Aku mempercepat langkahku, disamping ingin segera sampai rumah juga titik-titik air hujan sudah mulai terasa di wajahku lalu samar-samar terdengar suara-suara kambing mengembik, ini berarti tidak lama lagi aku akan sampai dan bertemu lagi dengan keluarga yang selama ini selalu kurindukan, diantara gelapnya malam terlihat cahaya lampu neon pada bangunan rumah yang letaknya lebih dekat yang ku bayangkan. Akhirnya aku pun sampai di rumah, terlihat ada beberapa orang yang sepertinya ku kenal, dan ternyata mereka adalah kedua orang tuaku dan kakak adikku yang sepertinya sedang mempersiapkan menyambut kedatanganku pada saat istimewa bagiku, dan ku mengeluarkan air mataku yang tak bisa ku bendung lagi saat itu, mereka langsung memelukku dengan erat. Tapi yang lebih mengagetkanku dari itu, ku melihat sahabat yang menemaniku saat umurku masih genap 8 tahun sampai 10 tahun ada di depan ku Tentu saja aku tidak akan melupakan Ires, seorang gadis yang manis anaknya guru mengaji di kampungku. Usianya lebih muda satu tahun denganku dan yang paling kuingat adalah lesung di pipinya bila ia tersenyum dan kulit wajahnya akan memerah bila ia kugoda. Dan Ires-lah orang yang selalu memberi semangat agar aku terus belajar untuk meraih prestasi guna melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Sebelum melanjutkan sekolah ke luar kota. Persahabatan yang telah kami jalin hancur begitu saja hanya karena aku harus pergi meninggalkan Ires, tetapi lamunanku buyar ketika mamahku memberikan sesuatu untukku, ternyata mamah memberikan sebuah cincin berwarna silver, senangnya hatiku saat itu, tak lebih juga dengan Ires, dia memberikan kalung berbentuk hati dan ditengahnya ada namaku leganya saat itu. Tak habis pikir, Eki, Naufal, Alifia, Rezha, Riefto, Rifki, Fiski, dan Dita pun ikut mengejutkanku dengan boneka mereka yang sangat besar, tentunya lebih besar dari badanku, mereka adalah gap-ku sewaktu umurku hampir ke 10 lebih tahun, tapi mereka tak terlihat seperti dahulu lagi. Penampilannya, tingkahnya, bahkan sifatnya. Sebenarnya apa yang mereka lakukan saat aku pergi, tapi sudahlah, tak terasa jam di tanganku menunjukan pukul 23.53. “woow!! 7 menit lagi aku bertambah usia.” Ucapku pada mereka,tak ditahan mereka tertawa melihat tingkahku yang konyol dengan bibir maju 3 senti karena usianya sekarang semakin tua.”hahahahahaha, seharusnya kamu bersyukur sya, diberikan umur panjang oleh Allah.” ucap ires sambil merangkul aku karena tubuhku yang cukup kecil dibandingkan dengan dia. Aku pun tersenyum padanya. Lalu tak lama seseorang menepuk pundakku “Heyy sekarang sudah pukul 24.03, wahhh happy birthday to you” ucap Riefto padaku sambil memeluk aku, tak ku kira, dia adalah cowok yang pertama kalinya memeluk aku, tak ku sangka dia melakukan hal itu padaku, Eki dan Naufall menutup kedua mataku, entah apa yang akan mereka lakukan. Tak beberapa lama kemudian Eki dan Naufall membuka kembali penutup mataku, aku terkejut melihat kue blackforresstt tepat di depanku, tapi mereka malah menjatuhkan kue itu tepat pada wajahku “TIDAKKKK!!” ucapku saat keunya sudah jatuh. Mereka tertawa sambil berlari-lari menjauhiku karena mereka tau, kalau aku akan membalasnya. Dan akhirnya aku bisa membuat suasanaku ini sama seperti dulu. Dan mereka pun memberikan hadiah terindah yang lebih dari apapun, yaitu kasih sayang mereka. “Terima kasih sobat, kalian memang yang terbaik.” Ucapku pada mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar